Allah azza wa jalla  berfirman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).

Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy Syanqithi mengatakan bahwa wajibnya nafkah, yaitu dalam kalimat  لِيُنفِقْ. Sehingga memberi nafkah pada istri hukumnya wajib.

Definisi mudahnya dari Nafkah itu sendiri

النفقة لغة: مأخوذة من الإنفاق، وهو في الأصل بمعنى الإخراج والنفاد، ولا يستعمل الإنفاق إلا في الخير

An Nafaqah secara bahasa asalnya dari kata al infaq yang bermakna >>
Pengeluaran, dan tidaklah kata “al infaq” ini digunakan kecuali dalam hal yang baik.

Dari berbagai macam literatur fiqih berputar pada pokok-pokok dibawah ini:

  • Ath Tha’am (makanan pokok)
  • Al ‘Udm dan atau semisalnya (makanan yang menemani makanan pokok; lauk-pauk)
  • Al Khadim (pembantu)*
  • Al Kiswah (pakaian)
  • Alaatut tanazhuf (alat-alat kebersihan)
  • Al Iskan (tempat tinggal)

Kalo mau diperinci dari pembahasan fiqih lainnya nafkah anak dan istri meliputi:

  1. Sandang
  2. Papan
  3. Pangan

Dan semuanya berbasis pada kebutuhan primer dengan standar “LAYAK”*, dan layak disini depend on pada adat/istiadat (‘urf), tempat, zaman, dan seterusnya.

Lalu hak-hak istri yang lain yang bisa diperinci semisal “Pergaulan yang baik” dari suami nya terhadap seorang istri, yaitu:

  1. Lemah lembut terhadap istri
  2. Mengalah ketika istri sedang emosi
  3. Senantiasa menunjukkan hati yang gembira dihadapan istri
  4. Bersabar dengan hal-hal yang tidak menyenangkan pada istri
  5. Berupaya berwajah ceria terhadap istri
  6. Berupaya meredakan amarah istri

Intinya seluruh pembahasan hak-hak dan kewajiban antara pasangan suami-istri itu seolah-olah seperti saling tukar menukar tempat saja, dimana apa yang menjadi hak istri maka itulah yang menjadi kewajiban suami dan juga sebaliknya apa yang menjadi hak suami maka itulah yang menjadi kewajiban seorang istri terhadap suaminya.

Pun menjadi kewajiban seorang suami yang automatically langsung menjadi hak-hak seorang istri adalah:

  1. Hak istri dibantu pekerjaan rumahnya: suami membantu pekerjaan rumah sebagaimana dibanyak hadits bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membantu istrinya, mungkin saat ini bisa dilakukan dengan mencuci piring, menyapu, memasak, dan seterusnya.
  2. Biaya pengobatan jika istri sakit: suami senantiasa siap siaga mengantar ke rumah sakit/dokter, biaya pengobatan istri yang sedang berlangsung, dst.
  3. Istri berhak untuk mendapat pendidikan dan pengajaran hukum-hukum Agama: Maksud dari pendidikan disini adalah lebih bersifat pada “teori” semisal shalat, fiqh, masalah haid dan semisalnya. Jadi seolah-olah seorang suami harus menjadi mufti (pemberi fatwa) bagi istrinya kelak, suami harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental terkait agama dari istrinya. Sedangkan maksud pengajaran pada point ini adalah lebih bersifat pada “kontrol” dan “evaluasi”, menanamkan karakter, komitmen, prinsip-prinsip kehidupan, visi misi hidup suami untuk keluarga yang sedang mereka bangun.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Source:
1. http://shankeety.net/Alfajr01Beta/index.php?module=Publisher&section=Topics&action=ViewTopic&topicId=346
2. Al Fiqhul Muyassar
3. dan lain-lain

Bandung, 10/2/2016
Sebelum sarapan pagi dan kembali beraktifitas~