يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

[Surat Al-Hujurat (49) ayat 12]

Dalam surat tersebut Allah azza wa jalla mengisyaratkan kepada kita tentang alur atau step by step yang pada akhirnya seseorang dapat terjerumus dalam dosa ghibah.

Oleh karena itu jika melihat orang lain melakukan sesuatu, siapa pun itu bisa kerabat, shahabat, guru atau yang lainnya. Hukumi mereka secara dzahir dan jauhi prasangka-prasangka buruk yang ada dalam hati kita terhadap orang tersebut.

Jika kita tidak mampu untuk ber-husnudzan terhadap orang lain namun sebaliknya hati kita malah cenderung kotor dan bawaannya selalu saja berburuk sangka pada orang lain, maka jangan sampai kita melakukan tajassus mencari-cari kesalahan orang tersebut untuk membenarkan/membuktikan bahwa prasangkaan buruk kita terhadapnya itu benar.

Lagi-lagi jika kita tidak mampu untuk tidak ber-tajassus  terhadap orang lain, mungkin karena rasa ingin tahu atau bisikan syaithan yang menggiring terhadap perbuatan maksiat begitu besar, maka ketika didapati bahwa terdapat kesalahan/aib pada orang tersebut jangan sampai kita menggunjing ia dan menyebarkan aib dan dosanya ke khalayak umum. Jika demikian anda sudah masuk dalam dosa GHIBAH.

Jadi simple nya dengan menutup pintu di AWAL, menutup pintu-pintu prasangka buruk terhadap orang lain, insyaaAllah kita akan selamat. Jika masih belum bisa selamat juga, maka usahakan tutup pintu kedua serapat-rapatnya dari mencari-cari kesalahan orang lain, juga insyaaAllah semoga Allah azza wa jalla akan menjauhkan kita dari dosa Ghibah.

Bukankah lebih tenang jika kita tidak mengetahui keburukan orang lain?
Bukankah justru aib kita yang lebih banyak sedangkan Allah azza wa jalla telah menutupinya dari dulu hingga bertahun-tahun lamanya mungkin hingga saat ini?
Alangkah indahnya bukan jika kita lebih baik saling mendoakan untuk kebaikan sesama muslim di dunia dan juga di akhirat?

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Deni Setiawan
Bandung, 3/1/2016 atau bertepatan dengan 22 Rabiul awal 1437 H
Sebelum Sarapan Pagi 07.30