Kemarin siang, Alhamdulillah diberi kesempatan waktu luang untuk survey mencari tanah-tanah di pelosok desa untuk rencana penanaman tanaman di tahun ini, semoga diberi kelancaran InsyaaAllah.

Melihat kesederhanaan para petani sungguh menyelekitkan hati. Mereka bisa hidup dengan rasa syukur yang tinggi, tanpa beban dan penuh senyum ringan dalam wajah-wajah mereka.

Saat melewati para ibu-ibu petani mereka menebarkan kesenyuman keramahan dan nampak di wajahnya rasa ceria akan apa yang mereka kerjakan (Terlihat Ikhlash banget, tapi Wallahualam)

Mungkin orang-orang di kota, atau para pegawai/pekerja di kantoran sulit untuk bekerja dengan enjoyable banget.

Saya: Kalo saya harus bayar mereka per hari berapa biasanya pak?
Guide: disini 25rb/hari masih dapet untuk ibu-ibu nya, kalo bapak-bapak 35rb/hari + dikasih makan 1 kali.
Saya: (seneng karena muraahhh banget cost nya~~~), tapi disatu sisi kok bisa ya mereka hidup dengan penghasilan segitu? dan mau di gaji perhari sebesar itu?

Jpeg
Spot #3

Bahagia itu benar-benar ada di hati yang Allah karuniakan pada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Semakin tinggi rasa Qona’ah kita, maka itu hakikat nya diri ini semakin merasa kaya.

Tak terbayangkan buat saya, 25rb itu kadang kala hanya cost untuk 1 kali makan saya di kampus, kadang kala 25rb juga bisa 2 kali atau 3 kali makan/hari. Belum untuk beli minum atau belum juga kalo lagi gatel suka beli snack2 untuk ngemil.

Kalo para petani, dengan uang segitu dia harus makan untuk dirinya, keluarga, memenuhi kebutuhan pribadi, pakaian, tempat tinggal, dst? Bisa? Ya, bisa buktinya mereka masih saja hidup kok. Alhamdulillah

Masing-masing dari manusia sudah jelas dan tertulis rezeki-Nya dan tidaklah manusia akan di wafatkan kecuali seluruh rezeki nya (ingat, seluruh rezeki nya) sudah Allah selesaikan untuk nya di dunia.

Jpeg
Spot #2

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagian, maka benarlah orang-orang kaya akan senantiasa menari-nari atas kebahagiannya tersebut. Tapi siapa yang bisa melakukan hal tersebut dengan tulusnya? Ya, bukan orang-orang kaya namun Anak-anak miskin lah yang bisa melakukan itu dengan riang gembira.

Deni Setiawan
Bandung, 1/1/16