Tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah Islam atau pesantren dan semisalnya bukan halangan untuk terus belajar seperti beberapa orang yang diberikan kesempatan seperti mereka.

Mendekati akhir-akhir tahun 2010

Di tahun ini semua kisah ini dimulai, ketika saat itu rasa ingin tahu, rasa ingin bisa, dan rasa ingin belajar Bahasa Arab mulai tumbuh. Entah dari mana cuma Allah azza wa jalla karuniakan hal tersebut tetiba terbesit dalam hati.

“Saya harus bisa dan mulai belajar Bahasa Arab, Bahasa nya Al-Quran….!”

Alhamdulillah, cepat sekali terjawab.

Waktu itu saya langsung inisiatif googling dimana tempat les-les Bahasa Arab yang ada tidak jauh dari rumah. Seketika ada seorang teman yang memberi informasi bahwa di daerah X ada kajian Bahasa Arab dasar. Super dasar? Ya, dasar banget katanya….

Oke, di waktu yang tepat saya langsung ke TKP sepulang sekolah dan setelah melihat-lihat brosur dan dompet pribadi saat itu, ok bismillah cocok dan mulai lah saya belajar. Saat itu orang tua hanya mau support saya untuk les Bahasa Inggris dan bimbel sedangkan untuk les Bahasa Arab harus mengeluarkan uang dari kocek pribadi.

Kitab Bahasa Arab yang pertama kali saya sentuh adalah buku yang di pakai di Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu Durusul Lughoh Al Arabiyah Gontor. Kitab ini bisa dibilang adalah buku pusakanya Gontor. Mendengar Gontor yang terbesit saat itu adalah sosok Kakak dari Ibu saya yang kebetulan beliau adalah lulusan Gontor dan sekarang punya pesantren di kota Medan, semoga Allah senantiasa menjaga beliau (perantau sejati).

Durusul Lughoh Al Arabiyah Gontor

Buku ini sudah bertahun-tahun dan turun temurun diajarkan di Kuliatul Mu’alimin Islamiyah (KMI) Pondok Modern Gontor dan pondok-pondok pesantren alumninya. Ditulis oleh Imam Zarkasi dan Imam Syubani dan diperuntukkan untuk para pemula dalam belajar bahasa Arab.

Kenangan saya terhadap buku itu cukup kuat, hasil nya adalah buku mufradat kecil yang sampai sekarang masih tersimpan baik untuk menghafal kosakata-kosakata baru dalam Bahasa Arab dan saat itu bersamaan juga dengan menambah vocabulary dalam Bahasa Inggris (gambar nya sudah dekil). Fokus belajar dua bahasa saat itu cukup menyenangkan terlebih Bahasa Arab yang sangat-sangat asing dan belum pernah terbayang bisa diberikan kesempatan untuk mempelajarinya. Waktu itu saya dapat pengajar dari LIPIA, Alhamdulillah banyak sekali faidah yang bisa didapat.

Januari 2011 – Maret 2011

Dalam interval waktu ini, amanah keorganisasian yang melelahkan di SMA mulai berdatangan bertubi-tubi tak kenal ampun. Jadwal belajar sudah mulai terganggu, tapi keinginan belajar masih tetap ada. Terlebih lagi, baru awal-awal mengenal Manhaj Salaf maka semakin bertambah semangat dan keinginan untuk bisa baca kitab-kitab yang biasa Ustadz tenteng kemana-mana saat mereka ngisi.

Waktu itu Allah takdirkan dipertemukan dengan salah seorang Ustadz yang boleh dibilang paling berjasa sepanjang hidup saya (karena pemahanan-pemahaman dasar bahasa arab) lebih kurang dibangun saat saya belajar dengan beliau.

Kitab yang pertama kali dipelajari saat itu adalah Al-Muyassar fii ilmi Nahwi jilid 1 karya Ustadz Aceng Zakaria dan Mukhtashor ‘Ilm Sharf wa Nahwi. Alhamdulillah pada fasa ini untuk pertama kalinya juga saya dibimbing untuk membaca kitab gundul dan hasilnya SAYA BELUM BISA…

Hampir putus asa, kok ternyata susah ya, padahal cuma ingin bisa baca saja, belum ditambah disuruh mengartikan dan sebagainya. Kitab gundul pertama yang dibaca waktu itu adalah Kitab Manhaj Al Firqatun Najiyah Wa Thaifah Al Manshurah, Penyusun: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Kitab Manhaj Al Firqatun Najiyah wa Thaifah Al.jpg

Bisa langsung baca? Tentu tidak…Perjalanan masih panjang nak…Sabar…

Maret 2011-Mei 2012

Disini perjalanan terberat bagi saya untuk tetap istiqomah dan terus belajar. Terbesit sebuah pertanyaan pada diri sendiri, apakah sebodoh inikah diri saya? Sudah mengorbankan waktu, uang, tenaga dan lain sebagainya tapi kok masih belum paham-paham juga.

Di interval waktu ini pun, awal pendakian di medan penuh rintangan akan dimulai tentunya setelah membawa bekal yang boleh dikatakan kurang lebih “cukup” dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Semua cara dilakukan dan semua kesempatan yang ada kaitannya dengan Bahasa Arab coba saya ambil.

Ada beberapa kisah unik:

Biasanya selain belajar mandiri (otodidak), mendengarkan rekaman kajian-kajian nahwu sharaf dan semisalnya, saya sering menjadi “pengemis” ke semua orang yang saya lihat potensial untuk mengajarkan saya agar bisa memahami Bahasa Arab yang “Sulit” (persepsi saat itu).

  1. Pernah bolak-balik Depok-Bekasi karena disana saya mendapatkan satu orang Ustadz yang mau ngajarin saya kitab Jurumiyyah menggunakan Syarah Jurumiyyah Syaikh Shalih Al-Utsaimin. Tidak sampai tamat 100% dan sisanya belajar sendiri. Kitab ini merupakan kitab berbahasa arab pertama yang pernah saya miliki seperti saya pernah menulis dipostingan lain di blog ini

Syarah Jurumiyyah Syaikh Shalih Al-Utsaimin.jpg

  1. Kenangan indah bersama Al-Muyassar fii ilmi Nahwi jilid 1. Kitab ini kitab paling butek dan kusut yang pernah saya punya. Berapa kali saya mengulang kitab ini dengan guru yang berbeda? (Empat kali) 4x. Uniknya sebanyak 4 kali saya mengulang dengan pengajar yang berbeda maka sebanyak 4 putaran pengulangan tersebut pula saya selalu menemukan faidah-faidah baru yang tidak ditemukan di pengulangan sebelumnya.
  1. Ada kisah menarik, pengalaman pribadi saat mengulang kitab Al-Muyassar fii ilmi Nahwi jilid 1 ini dengan salah seorang guru. Saya bolak-balik pergi ke rumah beliau. Saya gerecokin beliau ditengah kesibukannya waktu itu, mungkin bisa disebut seperti mulazamah tapi mungkin sudah keterlaluan dan mungkin merepotkan. Pernah saat memasuki bagian LATIHAN di kitab tersebut, saya akhirnya menyerah dan bingung jawabannya seperti apa. Sang pengajar pun tetap membiarkan hingga saya benar-benar bisa menjawab dengan benar. Pantang diberi tahu jawabannya sebelum saya sendiri menjawabnya dengan benar. Untuk beberapa latihan-latihan soal yang tidak bisa saya jawab, selama saya masih bisa berfikir maka selama itu pula Ustadz tersebut menunggu jawaban saya.

Ustadz  : Gimana udah ketemu jawabannya?

Saya       : Belum Ustadz, bingung, gak kebayang baca nya gimana…

Ustadz  : (nyeduh kopi……)

Ustadz  : Kaif ??

Saya       : Nyerah deh Ustadz, kasih tau aja….

Ustadz  : (makan dulu…..)

Saya       : Mentok banget Ustadz, Irob nya apa ya?

Pengalaman pribadi pernah sampai 30-45 menit lamanya saya dicuekin seperti itu, hingga benar-benar saya yang menjawabnya sendiri dengan benar.

Capek? Iya… Lelah? Tentu saja…

  1. Kenangan bersama Durusul Lughoh Al Arabiyah Jilid 3. Kenangan ini menjadi pelajaran berharga. Terutama mental seorang pejuang pembelajar yang seharusnya tak gampang mundur, tak mudah sakit hati, dan jangan baper kalo dimarahin oleh guru

Durusul Lughoh Al Arabiyah Jilid 3..jpg

Saat itu saya sudah pernah belajar Durusul Lughoh Al Arabiyah Jilid I, Sedangkan Durusul Lughoh Al Arabiyah Jilid 2 waktu itu cuma sebatas baca-baca saja sendiri dan dan alhamdulillah diberi kesempatan kembali untuk “merepotkan” seorang Ustadz untuk belajar kitab ini dan sebagian pembahasan dari Kitab Mulakhkhos Qowa’idul Lughoh Al-Arobiyah.

mulakhos-lughotul-arobiyyah.jpg

Cuma tipikal Ustadz ini cukup berbeda dari yang lainnya.

Ustadz  : Yah, masa kaya gini aja gak tau ente! Percuma Ente udah belajar kitab A, B, C….

Saya       : Bentar Ustadz, lagi mikir dulu nih…

Ustadz  : Udah lahh, ngulang dulu kitab ini deh sana, baru kesini lagi…!!

Saya       : #Jleb #Jleb #Jleb

Sudahlah, bagian itu tidak perlu diceritakan…. Tapi terlepas dari itu semua, saya banyak mendapatkan pelajaran berharga dari beliau terutama dari metode-metode dan cara mengajar yang benar.

Juni 2012- Pertengahan 2014

Kenangan bersama Al-Arabiyyatu Bayna Yaadayk Jilid 1-3 dimulai walaupun gak sampai tamat 100%. Alhamdulillah, saya punya beberapa teman yang mondok dibeberapa pesantren yang tentunya tatkala libur kita bisa saling bertemu.

Seperti biasa mental “Pengemis” itu muncul kembali jika melihat ada orang-orang hebat seperti mereka terlebih lagi jika orang mondok pasti kemampuan verbal mereka keren dan mantap-mantap. Oleh karena itu saya minta diajarin oleh mereka untuk menyelesaikan kitab ini dan diakhiri dengan latihan saat liburan kuliah segera berakhir.

Al-Arabiyyatu Bayna Yaadayk.png

Ternyata Speaking dan Writing di Bahasa Arab memiliki tantangan tersendiri dan hingga saat ini pun masih menjadi tantangan untuk menjadi lebih baik kedepan.

Pertengahan 2013

Setelah berdiskusi kepada orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup saya diatas, untuk pertama kalinya saya mencoba mengajar orang lain Bahasa Arab. Saya coba buka kelas online waktu itu. Sederhana sekali, dengan berbasis platform www.wiziq.com saya memulai “sharing ilmu” apa yang telah saya dapatkan kepada adik-adik saya di SMA dulu.

wiziq.jpg

Alhamdulillah semangat belajar mereka tinggi. Ada secerca kenangan-kenangan menarik disana. Terlebih setelah mengetahui beberapa dari mereka sekarang sedang menempuh pendidikan di jenjang selanjutnya dan memiliki kesibukan masing-masing. Alhamdulillah, semoga mereka diberikan keistiqomahan untuk terus menuntut ilmu.

Akhir 2014- Sekarang

Murajaah, Terus Praktek, dan Ajarkan….

Itu sebuah nasihat emas yang terus menancap dari guru-guru senior yang pernah mengajarkan ilmu ke saya. Pada interval waktu ini, mengulang-mengulang menjadi hal yang urgent. Kitab Mulakhkhos Qowa’idul Lughoh Al-Arobiyah sempat mengulang untuk kedua kalinya di fasa ini. Letih dan mulai futur itu pasti saja ada, terlebih jika kita semakin menjauh dari ilmu. Merasa sudah bisa dan lain sebagainya. Di fasa ini juga Alhamdulillah, dapat kesempatan belajar Al-Muyassar fii ilmi Nahwi jilid 2/3 kepada seorang ustadz dari LIPIA semester 8 (saat itu) yang kebetulan “saya culik” untuk nginep di kamar saya selama 10 hari dan dengan kitab yang sama pula di Bandung ada Ustadz yang rutin mengajar kitab Al-Muyassar fii ilmi Nahwi jilid 2/3.

Al-Muyassar fii ilmi Nahwi jilid 3..jpg

Entah mengapa saya senang mengulang-ulang kitab yang sama beberapa kali, karena hampir bisa dipastikan (seperti cerita saya diatas) bahwa akan selalu ada faidah-faidah menarik dan tak terpikirkan sebelumnya di pengulangan-pengulangan tersebut. Percaya atau tidak silahkan dibuktikan sendiri. Ada kitab menarik untuk dibaca yang kebetulan sekarang saya sendiri sedang mencoba menghabiskan  kitab  ini, yaitu Al-Qawa’id Al-Asasiyyah lil-Lughah Arabiyyah. Banyak sekali rekaman-rekaman yang tersedia di internet. Sarana-sarana ilmu begitu banyak dan menyebar luas.

qawaidul asasiyah li lughatil arabiyah.png

Metode Mengajar

Pada fase ini, timbul motivasi ingin mencontoh salah seorang Ustadz yang pernah mengenalkan saya Bahasa Arab (hingga saat ini pun masih). Ada cita-cita, saat kita “sharing ilmu” yang ilmu itu adalah ilmu yang dasar sekali, maka insyaallah semoga dengan bekal tersebut orang yang kita ajarkan akan terus menggunakan ilmu nya tadi sebagai kunci utama ke jenjang selanjutnya. Terlebih lagi Bahasa Arab dengan sejuta keutamaannya. Tipe-tipe murid pun bermacam-macam. Pernah diberikan kesempatan untuk “sharing” ilmu dengan beberapa teman-teman aktivis dakwah di kampus yang ternyata kemampuan Bahasa Arab mereka sangat minim sekali, pernah juga dihadapkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang kritis, pernah juga berhadapan dengan bapak-bapak yang sudah lanjut usia namun masih memiliki jiwa pemuda untuk mau belajar Bahasa Arab, pernah juga berhadapan dengan orang-orang di Kota dan orang-orang penuh kesederhanaan di Desa. Semuanya punya tantangan dan kendala tersendiri.

Orang berpendidikan tinggi (Kalangan Mahasiswa, Pemuda, etc):

Biasanya bisa cenderung bisa lebih cepat karena daya tangkap dan semangat mereka menggebu-gebu.

Orang berpendidikan rendah (biasa dari orang-orang desa, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak di kampung yang sudah tua:

Biasanya harus sabar dan sabar untuk mengajari mereka, terkadang kita harus bisa memahami kondisi mereka dan tidak bisa menyamakan irama pengajaran dengan orang-orang yang tidak semisal dengan mereka. Namun pada umumnya semangat dan kegigihan mereka perlu dihargai dan di apresiasi.

Beberapa rekaman pengajaran sebagian ada yang ter dokumentasi dengan baik dan ada yang memang tidak ingin di dokumentasi-kan. Setelah didengarkan ulang ternyata masih ada kesalahan dan banyak istilah yang dipermudah untuk mendekatkan pemahaman kepada orang-orang yang level pengajarannya harus di buat sedemikian rupa sehingga bisa dicerna dengan baik. Salah satu yang ter dokumentasi dengan baik dapat didengar disini.

https://archive.org/details/Muyassar1

muyassar archive.PNG

Jangan enggan untuk berbagi ilmu, kita tidak sekaliber Ustadz, tapi setidaknya ada banyak orang yang butuh dengan ilmu sesuai kadar dan kemampuan mereka masing-masing, mengapa kita tidak fasilitasi sesuai kapasitas diri kita? Tidak semua pertanyaan harus bisa kita jawab, tidak semua pertanyaan kita harus tau jawabannya. Diatas langit masih ada langit yang menjulang tinggi. Terus belajar, diskusi, dan bertanya kepada yang lebih berilmu, jika kita tidak tahu atau mengalami kesulitan dalam mengajar.

Bahasa Arab di Islamic Online University (IOU)

Kita harus bersyukur karena kita dilahirkan di Indonesia. Jika dibandingkan dengan penduduk di negara-negara lain, mayoritas orang Indonesia sudah familiar dengan kosa kata dalam Bahasa Arab. Mengapa? Karena banyak sekali serapan Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia.

Selama kuliah di IOU di semester 2 dan 3 yang lalu saya mendapatkan tiga mata kuliah wajib yang langsung diampu oleh Dr. Abu Ameenah Bilal Philips, yaitu Arabic 100, Arabic 101, dan Arabic 102. Materinya tidak sulit, namun yang sulit adalah memahami istilah-istilah umum di Nahwu dan Sharaf dalam Bahasa Inggris yang tentunya asing terdengar.

bilal pilips.PNG

Cukup menantang memang, ketika belajar satu Bahasa yang bahasa pengantarnya adalah Bahasa Asing lain yang sama-sama kita bukan native di Bahasa tersebut. Banyak manfaat yang didapatkan salah satu nya adalah saya sadar bahwa kembali seperti diawal, orang-orang asing cenderung lebih sulit dalam memahami Bahasa Arab daripada orang Indonesia itu sendiri. Saya memiliki teman-teman dari Rusia, negara-negara pecahan Uni Soviet, Belanda, dan negera-negera di Eropa. Hampir sebagian besar dari mereka merasa kesulitan dalam belajar Bahasa Arab meskipun Bahasa pengantar yang di berikan adalah dengan Bahasa Inggris. Lalu, setidak-tidaknya saya mendapatkan pengalaman berharga, siapa tahu suatu hari nanti diperkenankan untuk mengajar dasar Bahasa Arab untuk orang-orang Asing yang tentunya bahasa pengantar yang digunakan adalah bukan Bahasa Indonesia. Kita pun harus mengetahui istilah-istilah Nahwu semisal Marfu’, Manshub dan Majrur dalam Bahasa Inggris misalkan menjadi accusative case, nominative case, etc…

Masa yang Akan Datang….

Bukan sebanyak apa kajian yang kita hadiri tapi sudah berapa banyak kitab yang telah tamat dipelajari?

Bukan sebanyak apa kitab yang sudah dipelajari tapi sudah berapa banyak ilmu yang diimplementasikan pada diri?

Bukan sebanyak apa ilmu engkau amalkan tapi sudah berapa yang engkau ajarkan?

Bukan sebanyak apa ilmu yang engkau ajarkan tapi sudahkan ilmu tersebut membuat kita menjadi lebih takut kepada Allah azza wa jalla atau malah sebaliknya?

Hidup ini terus berjalan, waktu terus bergulir, sudah sejauh apa diri kita bisa bermanfaat untuk orang lain? Lalu bagaimana kondisi orang-orang terdekatmu kini? Apakah semua yang sudah kamu pelajari dari A-Z hingga saat ini hanya untuk dirimu sendiri saja?

Semoga Allah azza wa jalla menjaga keluarga penulis dan memberikan keistiqomahan dalam kebaikan kepada penulis hingga wafat nya kelak, Aamiin….

Deni Setiawan

2 Rabi’ul Awal 1437 H

Kota Sejuta Taman…