Coba bayangkan anda menjadi seorang pengusaha pupuk kandang, atau yang semisalnya. Tentunya anda pasti memiliki rutinitas pembicaraan tentang kotoran-kotoran hewan dengan berbagai jenisnya. Sehari-hari anda pasti berbicara tentang kotoran sapi, kotoran-kotoran kuda, dan seluruh kotoran yang menguntungkan dan potensial untuk dijadikan pupuk dan memajukan usaha anda.

Singkat cerita anda dipanggil untuk menghadap walikota, jangan walikota kalo begitu, anggap anda suatu hari di panggil oleh seorang GUBERNUR face to face dari mata ke mata untuk membahas suatu pembicaraan.

kring, kring, kring, kring……( Suara telepon anda berdering )
dan anda tahu bahwa yang menelepon anda saat itu adalah kolega bisnis anda seper-“pupuk kandang-“an. Dan anda tahu betul jika telepon itu diangkat, pasti yang akan dibahas adalah seputar tahi kambing, tahi kuda. Yang akan keluar dari mulut anda di telepon adalah tentang kotoran sapi, dan segala bentuk kotoran….

Kira-kira apakah yang akan anda lakukan??

Saya rasa, demi menjaga kehormatan dan etika di depan GUBERNUR, maka anda akan me-reject nada dering ponsel anda lalu melanjutkan pembicaraan dengan GUBERNUR tersebut, karena urusan bisnis nanti bisa dibicarakan lagi dengan kolega anda setelah perbincangan langka ini selesai. ya iyalah GUBERNUR broo, Orang PENTING….. Masa kita perdengarkan dengan ucapan-ucapan telepon yang berbau dan memang “bau” seputar kotoran-kotoran dan tai-tai hewan tadi?

Lantas, apa refleksi untuk diri kita?

Jika untuk sekelas GUBERNUR saja, anda akan melakukan hal tersebut, melupakan sejenak urusan-urusan dunia bisnis demi memanfaatkan waktu bersama GUBERNUR,

Namun mengapa saat Anda pergi SHALAT menghadap dan bermunajat kepada RABBUL ‘ALAMIN, Rabbnya sang GUBERNUR tadi, Dzat yang maha kuasa atas diri kita seluruhnya.

Engkau masih saja membawa kotoran-Kotoran itu dalam shalatmu dihadapan Allah?
Engkau masih saja membawa bangkai-bangkai itu dalam pikiran mu dihadapan Allah?
Engkau masih saja memikirkan hal-hal hina, remeh tak ada ada artinya dihadapan Allah?

Tidak kah engkau malu kepada Allah?
Adakah etika mu seperti perlakuan terhadap GUBERNUR dibandingkan kepada Allah juga sama?

engkau hancurkan kekhusyuk-an shalatmu dengan terus membawa pikiran-pikiran dunia (yang hina) ke hadapan Allah?

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])

karena Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])

Adakah rasa malu kepada Allah itu masih ada?
Sudahkah anda ber “etika” dalam shalat anda?

Bandung, 21/10/2015 6.35 AM (Sesaat sebelum berangkat kuliah)
NB: Inspirasi didapatkan dari cuplikan kajian Ust. Ali Ahmad (Semoga Allah senantiasa menjaga beliau)