Hendaknya kita senantiasa ingat sebesar-besar penghalang dari kemaksiatan. Para ulama telah bersepakat, sebesar-besar penghalang seseorang dari kemaksiatan adalah dengan mengetahui bahwa Allah azza wa jalla mengawasi kita semua.

Pada saat jiwa kita membisikkan kepada diri ini untuk berbuat maksiat dan dosa, maka ingatlah bahwa Allah azza wa jalla sedang melihat dan mengawasi kita.

Sesungguhnya di antara nama-nama Allah azza wa jalla adalah Al-Bashir, dan maknanya sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbad Al-Badr -hafizhahumallah-:

“Yang maha melihat segala sesuatu, mengawasi segala hal sekecil dan serumit apa pun, Ia mampu melihat semut hitam yang berjalan di atas batu yang hitam pekat di tengah malam yang gelap gulita. Ia melihat perjalan sari-sari makanan pada bagian tubuh masing-masing. Yang mampu melihat peredaran darah pada saluran-salurannya, Yang maha melihat apa yang ada dibawah bumi yang ketujuh dan apa yang ada diatas langit yang ketujuh. Allah azza wa jalla mengetahui gerakan mata, sebagaimana ia mengetahui mata-mata yang berkhianat… dan nama yang agung tersebut memiliki konsekuensi (dari seorang hamba), yaitu berupa sikap merendahkan diri, tunduk, senantiasa merasa diawasi, serta sifat ihsan di dalam beribadah, dan menjauhi segala bentuk dosa dan maksiat.

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata: “Pada Suatu malam ada seorang laki-laki yang mengajak seorang wanita (untuk berbuat zina) di tanah lapang, maka perempuan tersebut menolaknya. Lalu laki-laki tersebut berkata kepada si wanita:

“Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang (dilangit)”

Maka perempuan tersebut berkata: “Lantas dimanakah Dzat yang memberikan cahaya pada bintang-bintang tersebut?”
Yakni: Bukankah Ia (Allah) melihat kita? Allah azza wa jalla berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Surat Al-‘Alaq (96) ayat 14

Cukuplah hal itu sebagai penghalang (dari dosa dan maksiat).

(Fiqh Asma’ullah Al-Husna, hlm. 156-160)
Inilah penghalang terbesar dari kemaksiatan. Oleh karena itu, sangatlah banyak di dalam Al-Quran ayat-ayat yang diakhiri dengan kata:

وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Allah maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan

وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan

إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya

Maka setiap kali seorang mengingatkan jiwanya dengan ayat-ayat tersebut, ia akan mampu untuk menahan dan mencegah dirinya dari perbuatan maksiat.

من كان بالله أعرف كان له أخوف
Siapa yang lebih mengenal Allah, maka pasti ia lebih merasa takut kepada-Nya.

Sebagaimana hal tersebut dikatakan oleh para ahli ilmu rahimahumullah.

Referensi : “Kaifa taghudhdhu basharaka?” pada point: Mengetahui dan meyakini bahwa Allah azza wa jalla Maha Melihat.

Deni Setiawan
-Al-faqiir ilaa afwi robbih-

Nasihat pada hakikatnya adalah ditujukan untuk pemberi nasihat itu sendiri.