Bismillah…..

Entah kenapa ketika hal-hal yang disenangi oleh diri kita mulai satu per satu terpenuhi maka kecenderungan untuk selalu mengingat Allah -trendline- nya kok cenderung turun ya?

Pernahkah merasakan hal yang demikian, ketika hal yang kita inginkan dikabulkan oleh Allah azza wa jalla, setelah itu kita akan sangat bersyukur, lantas beberapa jam atau beberapa waktu kemudian kita seolah-olah lupa dari apa yang telah Allah berikan kepada kita.

Kita terus menerus berdoa untuk meminta hajat kepada Allah azza wa jalla, meminta dijauhkan dari segala kemudharatan, meminta segala bentuk nikmat-nikmat Nya yang begitu luas. Saat semuanya telah terpenuhi, kita lupa dengan sang Pemberi. Bahkan yang lebih parah kita malah berbalik mendurhakai-Nya bersamaan setelah tak lama keinginan kita itu terpenuhi. Naudzubullah……..

Sungguh tak tau diri bukan…

Saat mendapatkan kesulitan kita lebih banyak berkeluh kesah. Tatkala sudah kembali dilapangkan oleh Allah azza wa jalla, maka kita menjadi kikir, kufur, pura-pura lupa, dan ahhhh sudahlah sebutkan saja segala bentuk eforia yang terlarang itu. Tidak ada yang lebih baik kecuali panjatan syukur yang seharusnya rasa syukur tersebut terus menerus memenuhi relung hati kita.

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعً

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

Ohhh, ternyata memang benar, sudah hafal ayat diatas?

(potongan surat Al-Ma’arij ayat 19-20)

Sifat manusia seperti ituuu….
Tapi, tentu itu bukan menjadi pembenaran tentunya.

Ketika melewati ayat demi ayat Al-Quran tiba-tiba ada satu ayat yang sangat memukul diri ini –khususnya– entah kenapa ayat ini seolah-olah langsung menusuk hati yang paling dalam. Memecahkan keheningan, lebih tepatnya –nyindir– yang membacanya.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Artinya:

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.

Berkata Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam tafsirnya

Yaitu disaat terdesak ia berendah diri memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih. (Al-Isra: 67)

Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya dalam surat ini:

kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu. (Az-Zumar: 8)

Yakni dalam keadaan sejahtera dan makmur dia lupa terhadap doa dan tadarru’ yang pernah ia panjatkan kepada Allah azza wa jalla.

Adapun firman Allah jalla jalaluhu:

dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalanNya. (Az-Zumar: 8)

Yaitu dalam keadaan sejahtera dia mempersekutukan Allah menjadikan bagi-Nya tandingan-tandingan.

Katakanlah; “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Az-Zumar: 8)

Yakni katakanlah kepada orang yang keadaannya demikian dan jalan hidupnya seperti itu, “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu sedikit waktu”. Ini merupakan ancaman yang keras dan janji yang pasti, semakna dengan firman-Nya:

Katakanlah, “Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.” (Ibrahim: 30)

Dan firman-Nya:

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 24)

Semoga kita tidak termasuk kedalam orang-orang yang hanya taat beribadah tatkala ada mau nya saja. Tatkala kenikmatan menyapa kita bertubi-tubi, kemudian kita menjadi lupa akan apa yang selama ini kita minta kepada Allah. Kita melupakan Allah di waktu lapang. Kita lupa akan tangisan-tangisan kita selama kita dirundung musibah. Aku berlindung kepada Allah jalla jalaluhu dari sikap yang demikian. Karana mengingat Allah itu ada di dua waktu. Baik diwaktu sempit dan di waktu lapang.

Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَرَّفْ إِلَي اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalimu ketika susah.”

(HR. Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam

Asalullahal Ikhlash…….. 

Bogor, Jawa Barat

Ahad, 20 Rabbi’1 1436 H

Deni Setiawan, ST (Semoga cepaT lulussss 🙂 dari kampus berlogo Gajah ini aaminn ya Allah )

-saudaramu yang sedang sama-sama belajar-