Sebelum berlanjut menggali keindahan Bahasa Al-Quran, kita harus berkenalan terlebih dahulu dengan apa itu Ilmu Balaghah. Sesuai dengan prolog sebelumnya (disini), penulis sudah memberi sedikit spoiler tentang pembahasan-pembahasan ringan di tulisan mendatang. Semoga kita tetap ikhlas dan tetap semangat untuk mempelajari Bahasa yang super indah nan tiada tandingannya ini.

APA ITU ILMU BALAGHAH?

Secara bahasa, balaghah artinya ‘menyampaikan sesuai kepada tujuannya’. “Manusia baligh” berarti manusia yang telah sampai pada batasan usia yang mendapat kewajiban beban syariat. Makna ini sebagaimana dalam firman Allah azza wa jalla,

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
(QS: Al-Kahfi Ayat: 90)

Secara istilah, balaghah artinya:

حُسْنُ الكلام مع فصاحته وأدائه لغاية المعنى المراد

“Keindahan dalam berbicara yang disertai kefasihan (ketepatan kata) dan disampaikan untuk menerangkan makna yang diinginkan secara sempurna.” (Al-Balaghah Al-‘Arabiyah, hlm. 103)[1]

Menurut Ali jarim dan Musthafa Amin dalam Balaghatul Wadhihah:

أما البلاغة فهي تأدية المعنى الجليل واضحا بعبارة صحيحة لها في النفس أثر خلاب مع ملائمة كل كلام للموطن الذي يقال فيه والأشخاص الذين يخاطبون.

“Adapun Balaghah itu adalah mengungkapkan makna yang estetik secara jelas dengan menggunakan ungkapan yang benar, agara berpengaruh dalam jiwa, tetap menjaga relevansi setiap kalimatnya dengan tempat diucapkannya ungkapan tersebut, serta memperhatikan kecocokannya dengan pihak yang diajak bicara”

 

Keindahan Al-Qur’an (Kalamullah) akan sangat terlihat dari ilmu ini, membuat yang membacanya akan merasakan sentuhan jiwa, merasa dirinya terpanggil, merasa seolah-olah hati dan bacaan Al-Quran merasa menyatu karena kemulian ayat-ayat Allah. Bagaimana semua perkara-perkara ghaib yang dikabarkan dalam Al-Quran, sungguh, sungguh pasti akan terjadi.

MENEMPATKAN FI’IL MADHI PADA KEJADIAN YANG AKAN DATANG

Semisal dalam ayat ini,

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.

(QS: Al-Kahfi Ayat: 47)

Fi’il Madhi kok digunakan untuk peristiwa yang akan datang? Gak kebalik tuh?

Ya, benar semua sudah tau InsyaaAllah bahwa Fi’il Madhi memang digunakan untuk peristiwa di masa lampau, sebagaimana definsi-definisi dibanyak kitab pelajaran Bahasa Arab (nahwu).

الفعل الماضي

Fi’il Madhi adalah kata kerja (fi’il) yang menunjukkan terhadap suatu kejadian/peristiwa sebelum masa pembicaraan [lampau, telah berlalu].[2]

Contohnya:

فَهِمَ

[Fahima] artinya: “Telah memahami”

خَرَجَ

[Khoroja] artinya: “Telah keluar”

Lantas mengapa dalam ayat tersebut, kejadian yang belum terjadi namun diungkapkan dengan Fi’il Madhi? Seperti pada kalimat berikut

وَحَشَرْنَاهُمْ (dan Kami kumpulkan seluruh manusia)

Bukankah dikumpulkannya manusia tersebut belum terjadi saat ini?

Demikian pula dalam ayat yang lain

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.
(QS: An-Naml Ayat: 87)

Dalam ayat lain juga ada,

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.

(QS: Fussilat Ayat: 21)

Ket: yang dibold dengan warna merah adalah fi’il madhi dan warna hijau adalah fi’il mudhari

Maka, penempatan fi’il madhi di tempat yang seharusnya diletakan fi’il mudhari (Fi’il yang menunjukkan waktu sedang/akan datang) adalah untuk meyakinkan orang yang diajak bicara akan suatu kejadian yang dianggap BESAR, yang mungkin sebelumnya orang yang diajak bicara tersebut tidak percaya atau bahkan tidak yakin akan suatu peristiwa yang akan datang di kemudian hari.

arab

Dan ungkapan (وَحَشَرْنَاهُم) dengal lafadz fi’il madhi sebagai ganti dari (وَنَحشرهُم) –fi’il mudhari-pent, sedangkan sebelumnya terdapat dua fi’il mudhari (berwarna hijau). Hal ini adalah ‘udul dari fi’il mudhari kepada fi’il madhi untuk menunjukkan atas BENAR-BENAR AKAN TERJADINYA HASY’R (berkumpulnya manusia nanti). Kebenaran akan terjadinya peristiwa tersebut sangat pantas diungkapkan dengan bentuk fi’il madhi yang menunjukkan bahwa kejadian tersebut benar-benar terjadi di waktu lampau. Demikian pula pada ungkapan (فَفَزِعَ) dengan fi’il madhi sebagai ganti (يفزع) untuk tujuan Balaghah bahwasannya KEADAAN TERKEJUT PADA SAAT TIUPAN SANGKAKALA MERUPAKAN PERKARA YANG PASTI TERJADI DAN TIDAK ADA KERAGUAN DIDALAMNYA, sedangkan keadaan makhluk saat itu dalam keadaan takut dan ngeri. Ketika sebuah perkara pasti terjadi, tidak ada yang meperdebatkan seorangpun atasnya maka fi’il madhi itulah yang sesuai untuk mengungkapkan kejadian tersebut, seolah-olah peristiwa tersebut sudah terjadi. Selanjutnya pada ungkapan (لِمَ شَهِدتُّمْ) sebagai penggati dari ungkapan (ويقولون ولم تشهدون) –fi’il mudhari-pent, kerena ucapan dan persaksian itu PASTI TERJADI DI AKHIRAT, oleh karena itu diungkapan dengan fi’il madhi.[3]

Saat kita mengetahui alasan-alasan diatas dan memang begitulah keindahan Bahasa arab, maka seharusnya hati ini akan tergetarkan ketika mendengar ayat tersebut dilantunkan. Bukan tanpa alasan, ketika posisi yang secara logika seharusnya ditempati oleh fi’il mudhari (untuk kejadian-kejadian yang akan datang) justru Allah azza wa jalla ungkapakan dalam bentuk lain, yaitu fi’il Madhi (yang kita semua tahu bahwa penjelasan-penjelasan di banyak kitab-kitab ilmu nahwu menyatakan bahwa fi’il madhi default-nya adalah untuk menunjukkan peristiwa yang telah terjadi).

Disini lah keindahan dan balaghah yang tinggi, dimana penggunaan tersebut menghendaki pembaca/pendengar terhadap ayat tersebut sehingga akan bertambah keimanannya dan ketaqwaannya karena meyakini peristiwa-peristiwa ghaib diatas adalah HAQ!! MasyaaAllah~~~🙂

Dulu ketika –bulan Ramadhan-, ada satu faidah menarik yang pernah penulis dengar disalah satu kajian di Masjid Imam Asy-Syafi’i (didaerah tempat penulis tinggal, di Depok) yang saat itu pembahasan kajian adalah seputar hukum-hukum di bulan Ramadhan. Kebetulan ada sedikit kaitannya dengan tema tulisan ini, yaitu sisi Balaghah pada alasan(MENEMPATKAN FI’IL MADHI UNTUK YANG PERISTIWA YANG AKAN DATANG).

Sudahkan anda hafal Do’a berbuka puasa yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam?


tentunya –insyaaAllah-  kita semua sudah hafal, doa yang mungkin sering kita dengar (Allahumma laka sumtu, dst) adalah do’a dari hadits yang dhaif[4], yang shahih adalah sebagai berikut:

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka puasa, beliau membaca: “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu………”

(HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

doa-berbuka-puasa
Ketika itu sang Ustadz bertanya kepada jama’ah, siapa yang hafal do’a berbuka puasa yang shahih???

Sontak para hadirin pun bergemuruh («ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »)

Hampir semua sudah hafal, Alhamdulillah.
Kemudian Ustadz bertanya “KAPAN BACANYA? SESUDAH ATAU SEBELUM BERBUKA?


Hampir kompak para hadirin pun menjawab, “SESUDAH, SESUDAH, SESUDAH ustadz!!”

Penulis sendiri pun berpendapat demikian karena sesuai artinya, yaitu

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

Jika artinya telah hilang dahaga, maka pastinya dibaca setelah berbuka puasa dong? Pendapat para ulama yang memperkuat bahwa doa ini dibaca sesudah berbuka dapat dibaca disini >> http://www.konsultasisyariah.com/doa-sahih-berbuka-puasa/ dan disini >> http://muslimah.or.id/ramadhan/doa-berbuka-puasa-yang-shahih.html serta diperkuat juga oleh perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin. Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan:

لكن ورد دعاء عن النبي صلى الله عليه وسلم لو صح فإنه يكون بعد الإفطار وهو : ” ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ”  فهذا لا يكون إلا بعد الفطر

“Hanya saja, terdapat doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika doa ini shahih, bahwa doa ini dibaca setelah berbuka. Yaitu doa: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst. doa ini tidak dibaca kecuali setelah selesai berbuka.” (Al-Liqa As-Syahri, no. 8, dinukil dari Islamqa.com)

Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7428.

Lalu ustadz tersebut berkata, “KELIRU, YANG BENAR ADALAH SEBELUM BERBUKA”
Semua hadirin pun bingung, karena sudah terbiasa membacanya setelah berbuka puasa
(sebab melihat leterlek makna hadits tersebut –telah hilang dahaga- ya lebih pas dibaca setelah berbuka)

Penjelasan dari ustadz :

  1. Yang dimaksud denganإذا أفطر  (lihat hadits lengkapnya diatas -pent) seharusnya diartikan “akan datang” karena idzaa ketika bertemu dengan fi’il madhi (أفطر) maka memberi arti mustaqbal (menunjukkan masa akan datang)  jadi artinya seperti ini >> ketika rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam hendak berbuka, beliau membaca dzahaba zamau dst…

(semoga yang baca gak bingung sama tulisanku, kok malah bahas idza ?! haha, insyaaAllah pembahasan tentang idza ketemu fi’il madhi akan dibahas di tulisan mendatang, insyaaAllah)

  1. Jika diartikan seperti itu, ketika rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam hendak berbuka, beliau membaca dzahaba zamau dst…
    kok do’a nya seperti ini,

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Padahal ذَهَبَ adalah fi’il madhi, maka seharusnya  (يذهَب) yadzahabu –fi’il mudhari  sehingga artinya akan lebih pas (akan hilang dahaga, dst)

Maka faidah yang saya dengar saat itu (faidah tersebut sesuai dengan tema tulisan ini), yaitu:

“itulah kebiasaan orang arab saat ingin mengungkapkan sesuatu yang bentarrr lagiiiiii akan terjadi”  jadi saat kita membaca doa itu sebelum berbuka puasa, walaupun secara zahir maknanya berarti –telah hilang dahaga- padahal mah minum juga belum, kurma pun belum disentuh, lontong pun belum dilahap dan kolek pun belum tercium. Namun pada hakikatnya sungguh sungguh sungguh sungguh sebentar lagi itu akan terjadi, sedikit lagi, bentar lagi dan begitu dekattttttt sekaliiii. Dan ternyata memang benar, sesaat setelah selesai membaca doa tersebut lontong, kolek, dan kurma pun telah sirna dari permukaan bumi (alias langsung dilahap🙂 ) hahaha. Iya kan?? Pengalaman soalnya.

Sebagai penguat ustadz pun memberi contoh pada lafadz iqomah yang tentunya sering kita dengar

2xقَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

قَامَتِ adalah fi’il madhi kalo kita artikan secara leterlek maka artinya

“sungguh shalat telah didirikan”

but, shalat aja belum mulai kan, orang-orang masih beresin shaf-shaf nya, Imam masih mengkondisikan para makmum dan Shalat belum mulai kan??
Kenapa pake fi’il madhi? Ya alasannya seperti diatas “ungkapkan sesuatu yang bentar lagiiiiiiiiii akan terjadi” makannya pake fi’il madhi.

Hmmm, sudah terlalu panjang.

Bagaimana indah dan menarik bukan Bahasa Arab itu? Bahasa Al-Quran dan Lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Masih enggan untuk memahaminya?

Masih enggan untuk memulai belajar?

Masih enggan namun dengan sejuta kesibukan yang tak pernah anda enggan-kan itu?

Masih bilang Bahasa Arab itu susah? Iya sih susah sedikit~

Masih, masih…….. & masih?

Yasudahhhh, Pecahkan saja gelasnya !! Biar Ramai (?)😀

Padahal keindahannya akan Menyentuh hati bagi yang memahaminya. Seperti judul tulisan ini Menyentuh Hati yang Memahaminya: Keindahan Bahasa Arab (Bag.2)

———————————–<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>>———————————–
Tambahan Faidah Tafsir dari masing-masing ayat diatas biar lebih sempurna dan gak ngegantung kaya jemuran:

  1. (QS: Al-Kahfi Ayat: 47)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

وقوله : ( وحشرناهم فلم نغادر منهم أحدا ) أي : وجمعناهم ؛ الأولين منهم والآخرين ، فلم نترك منهم أحدا ، لا صغيرا ولا كبيرا ، كما قال : ( قل إن الأولين والآخرين لمجموعون إلى ميقات يوم معلوم ) [ الواقعة : 50 ، 49 ] ، وقال : ( ذلك يوم مجموع له الناس وذلك يوم مشهود ) [ هود : 103 ]

Yakni Kami himpunkan mereka semua dari yang terdahulu hingga yang kemudian (yang terakhir). Tiada seorang pun dari mereka yang Kami tinggalkan, baik yang kecil maupun yang besar, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

( قل إن الأولين والآخرين لمجموعون إلى ميقات يوم معلوم ) [ الواقعة : 50 ، 49 ]

Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang terkemudian
benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (Al-Waqi’ah: 49- 50)

( ذلك يوم مجموع له الناس وذلك يوم مشهود ) [ هود : 103 ]

Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapinya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala malaikat). (Hud: 103)

Dalam Tafsir Jalalayn
Maksud ayat diatas adalah

“(Dan) ingatlah (akan hari yang ketika itu Kami perjalankan gunung-gunung) Kami lenyapkan gunung-gunung itu dari muka bumi, hingga gunung-gunung itu menjadi debu yang beterbangan. Menurut qiraat yang lain dibaca Tusayyaru. (dan kamu akan melihat bumi itu datar) tidak ada sesuatu pun yang ada padanya, baik gunung maupun yang lain-lainnya (dan Kami kumpulkan seluruh manusia) baik mereka yang mukmin maupun mereka yang kafir (dan tidak Kami tinggalkan) Kami tidak membiarkan (seorang pun dari mereka.)”

  1. (QS: Al-Naml Ayat: 87)

وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dalam Tafsir Jalalayn
Maksud ayat diatas adalah

(Dan hari ketika ditiup sangkakala) tiupan sangkakala malaikat Israfil yang pertama (maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi) mereka ketakutan, sehingga ketakutan itu mematikan mereka, sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat lainnya, yaitu dengan ungkapan Sha’iqa, yakni terkejut yang mematikan. Dan ungkapan dalam ayat ini dipakai Fi’il Madhi untuk menggambarkan kepastian terjadinya hal ini (kecuali siapa yang dikehendaki Allah) yaitu malaikat Jibril, malaikat Mikail, malaikat Israfil dan malaikat Maut. Tetapi menurut suatu riwayat yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas disebutkan, bahwa mereka yang tidak terkejut adalah para Syuhada, karena mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki. (Dan semua mereka) lafal Kullun ini harakat Tanwinnya merupakan pergantian daripada Mudhaf Ilaih, artinya mereka semua sesudah dihidupkan kembali di hari kiamat (datang menghadap kepada-Nya)dapat dibaca Atauhu dan Atuhu (dengan merendahkan diri) artinya merasa rendah diri. Dan ungkapan lafal Atauhu dengan memakai Fi’il Madhi untuk menunjukkan, bahwa hal itu pasti terjadi.

  1. (QS: Fussilat Ayat: 21)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

( وقالوا لجلودهم لم شهدتم علينا ) أي : لاموا أعضاءهم وجلودهم حين شهدوا عليهم ، فعند ذلك أجابتهم الأعضاء : ( قالوا أنطقنا الله الذي أنطق كل شيء وهو خلقكم أول مرة) أي : فهو لا يخالف ولا يمانع ، وإليه ترجعون .

Mereka mencela anggota tubuh mereka dan kulit mereka sendiri karena semuanya bersaksi terhadap diri mereka. Maka pada saat itu semua anggota tubuh mereka menjawab:

قالوا أنطقنا الله الذي أنطق كل شيء وهو خلقكم أول مرة

Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah
menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada yang
pertama kali. (Fushshilat: 21)

Yakni Dia tidak dapat ditentang, tidak dapat dicegah, dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Asalullahal Ikhlash……..

Sabtu, 12 Rabbi’1 1436 H

Depok

Deni Setiawan, ST (Semoga cepaT lulussss🙂 dari kampus berlogo Gajah ini aaminn ya Allah )

-saudaramu yang sedang sama-sama belajar-

Referensi:

[1]http://yufidia.com/balaghah-al-maani-al-bayan-dan-al-badi

[2]Tuhfatus Saniyah Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah

[3]Jawahir Al-Balaghah fi al-ma’ani wa al-bayan wa al-badi’

[4]Doa dengan redaksi ini diriwayatkan Abu Daud dalam Sunan-nya no. 2358 secara mursal (tidak ada perawi sahabat di atas tabi’in), dari Mu’adz bin Zuhrah. Sementara Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in, sehingga hadis ini mursal. Dalam ilmu hadis, hadis mursal merupakan hadis dhaif karena sanad yang terputus.

Doa di atas dinilai dhaif oleh Al-Albani, sebagaimana keterangan beliau di Dhaif Sunan Abu Daud 510 dan Irwaul Gholil, 4:38.

Hadis semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath-Thobroni dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat perowi dhaif yaitu Daud bin Az-Zibriqon, di adalah seorang perowi matruk. Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan:

وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ فِيهِ دَاوُد بْنُ الزِّبْرِقَانِ ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ

“Sanad hadis ini dhaif, karena di sana ada Daud bin Az-Zibriqon, dan dia perawi matruk.” (At-Talkhis Al-Habir, 3:54).

http://www.konsultasisyariah.com/doa-sahih-berbuka-puasa/

[5]Tafsir Ibnu Katsir bagian Surat Al-Kahfi