Bismillah…..

Bahasa yang satu ini sungguh sempurna dari segala sisi. Sependek pengetahuan saya, Bahasa Arab paling banyak cabang ilmu-ilmu pendukungnya. Mulai dari yang tidak asing lagi, yaitu Ilmu Nahwu, Sharaf, Lughah, Isytiqaq, Khat, Balaghah, dan mungkin masih banyak lagi yang belum pernah saya dengar.

Ada satu pembahasan Ilmu yang menurut saya merupakan ilmu yang paling membuat seseorang menjadi “Seolah-olah” punya feeling seperti orang Arab asli (walaupun gak 100%, ya seenggaknya 20% feeling nya dapet lah). Soalnya saat kita membaca/mendengar Bahasa Arab dan belum pernah tahu sedikit penjelasan tentang Ilmu Balaghah, biasanya dalam menyikapi suatu kalimat Bahasa Arab akan merasa datar-datar aja, lempeng-lempeng aja, gak ada yang aneh dan hanya bisa paham arti secara leterlek nya saja.

Jadi gini, pernah gak sih saat berbicara kepada seorang sahabat (dalam Bahasa Indonesia) misalnya, disaat kita ingin menyampaikan suatu kabar/berita, sedangkan kita mengetahui bahwasanya dia memiliki tingkat penolakan terhadap suatu kabar/berita yang akan kita sampaikan terhadapnya.

Misal Si Budi baru saja melihat Dosen A di parkiran mobil. Tiba-tiba Si Ahmad memberi kabar kepada si Budi bahwa Kelas Dosen A ditiadakan (mungkin saja Budi tidak membaca jarkoman teman seangkatannya jika kelas memang ditiadakan). Maka sontak Budi pun menolak kabar tersebut

Budi       :“yang benar aja bro, barusan gw liat Dosen A keluar dari Mobil”
Ahmad   :Beneran bud, kelas libur”
Budi       :”gak percaya, barusan banget gw liat Dosen A ada di kampus”
Ahmad   :Beneran deh Bud, Sumpah Kelas libur kok”
Budi       :”Gw mau cek ke kelas dulu lah”
Ahmad  :Ya Allah bud, beneran, sumpah kelas libur, Potong kuping gw kalo gw bohong”

Kasus bisa berbeda jika Budi dalam keadaan netral dan tidak ada kecenderungan apapun dalam memahami berita yang akan dia terima.

Ahmad :”bud, kelas libur”
Budi     :”ohh, oke Alhamdulillah, tau aja banyak deadline laporan,😀 “

Ilustrasi diatas menggambarkan tatkala kita ingin menggunakan Bahasa Asing pun kita perlu memahami gaya bahasa yang cocok untuk diucapkan kepada lawan bicara sesuai kadar penolakan atau penerimaan suatu kabar yang akan didengarnya nanti. Pemahaman-pemahaman seperti ini dipelajari di Ilmu Balaghah.

saat kita membaca/mendengar suatu tulisan/ucapan berbahasa arab tanpa mengetahui nilai estetika didalamnya pasti respon yang kita rasakan pun akan biasa-biasa aja, tidak ada yang aneh atau tidak ada yang menyentuh perasaan kita sedikit pun. Ya tentu saja, karena Bahasa ibu kita adalah Bahasa Indonesia bukan Bahasa Arab.

Coba saja bayangkan jika Si Budi adalah orang asing yang memiliki Bahasa Ibu bukan Bahasa Indonesia tapi sediki-sedikit bisa ngomong Bahasa Indonesia (mungkin dia Bule, tapi kok Bule namanya Budi?!). Apa yang dia akan pahami? dalam memaknai terms Beneran, Sumpah, Ya Allah, Potong kuping gw dan kata-kata penekanan lainnya. Mungkin dia akan bertanya-tanya apa hubungannya dosen dengan Ya Allah dan kenapa juga kupingnya Ahmad harus di potong Cuma gara-gara Si Budi mau cek kelas?. Yang pada akhirnya Si Ahmad yang sudah mulai lelah pun bergumam dalam hati “yehh dasar Bule b’loon udah gw kasih tau gak percaya”.😀

Begitu pun dengan kita tatkala mempelajari Bahasa yang baru, kita pun juga harus belajar pada level yang lebih tinggi sehingga jiwa kita bisa menerimanya, perasaan kita lebih menyatu dalam Bahasa tersebut. Tentunya setelah melewati tahapan-tahapan penuh kesabaran nan mengasah logika, memperkaya kosakata, dan membuat pemahaman yang dalam terhadap susunan “Sintaksis dan Grammar” suatu Bahasa tertentu. Pada akhirnya walaupun gak 100% bisa jadi penutur Bahasa asing nan fasih, ya seenggaknya 20% feeling nya dapet lah.

Masih ingin berlama-lama di prolog ini. Karena saat awal menulis, judul artikel sudah saya beri kata >> (Bag. 1) << berarti saya berniat berpanjang-panjang pada tulisan-tulisan berikutnya.

Terkadang hati ini cukup sedih mendengar ungkapan seseorang yang mengatakan Bahasa Arab itu susah bangett, butuh waktu lama belajarnya, gak bisa instant satu minggu langsung bisa.

Seandainya ada tempat kursus yang menawarkan garansi 1 minggu langsung bisa dan lancar berbahasa arab, niscaya saya adalah pendaftar pertama dilembaga tersebut. Jangankan garansi Uang kembali, gak dikembaliin juga gak apa-apa yang penting saya bisa Bahasa Arab.

Namun, sungguh saya harus mengakui “sejenak” (hanya sejenak karena Bahasa Arab itu harus disugestikan mudah,mudah, take it easy, gampang, piece of cakes) bahwa Bahasa Arab memang susah juga ternyata bahkan beberapa survey di dunia sampe mengkategorikan Bahasa Arab sebagai THE HARDEST LANGUAGES TO BE LEARNED IN THE WORLD !!, Lebay? Gak juga karena saya pernah menemukan Info grafis yang menunjukkan bahwa Bahasa Arab adalah Bahasa tersulit yang disejajarkan dengan Bahasa Jepang, China, Korea.

Saya ambil dari https://voxy.com/blog/index.php/2011/03/hardest-languages-infographic/

“Learning a new language can be difficult, but some languages can be trickier than others. For native English speakers, the difficulty level of a new language depends on a variety of factors. So which are the most difficult to learn? And which languages would you be able to master in under a year? View the infographic below to learn more.”

Tangkapan layar 2014-12-31 10.28.18

Why it’s so difficult: Arabic has very few words that resemble those of European languages. Written Arabic also uses fewer vowels, which can be difficult for those learning to read the language.

Untuk Mencapai “kecakapan berbahasa” diperkirakan membutuhkan waktu 1,69 Years (88 Weeks) atau setara 2200 jam belajar.

Waktu 2 tahun ini dengan asumsi bahwa hidupnya hanya di habiskan dengan belajar Bahasa Arab terus menerus selama 2200 jam, haha pasti mabok.

Oke, entah bagaimana penelitian itu dilakukan tapi yang jelas Bahasa Arab dikatakan sulit berdasarkan waktu belajarnya yang membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan Bahasa-bahasa lainnya.

Bahasa Spanyol, Belanda, Portugis, Swedia, Prancis, Afrika, Italia, Norwegia, Romania adalah Bahasa yang dikategorikan Bahasa pada level EASY hanya butuh waktu 23-44 minggu untuk memperoleh kecapakan dalam Bahasa ini.

Bahasa India, Thailand, Rusia, Serbia, Vietnam, Turki, Polandia, Denmark, Israel, FInladia adalah Bahasa yang dikategorikan Bahasa pada level MEDIUM hanya butuh waktu 44 minggu untuk memperoleh kecapakan dalam Bahasa ini.

Bahasa Arab, Jepang, China, dan Korea merupakan Bahasa dengan level HARD.

Kesimpulan sementara dalam Prolog tulisan ini, bahwa

1. Secara Logika, saat kita sudah menguasai Bahasa dengan kategori HARD, maka seharusnya Bahasa dengan level rendah dibawahnya jauh lebih mudah untuk dipelajari bukan? Yang susah aja lewat apalagi yang ecek-ecek itu mah urusan remeh. Jadi kenapa mesti mendahulukan Bahasa asing yang lebih mudah dari Bahasa arab padahal Bahasa arab adalah Bahasa Al-Quran mu sendiri kawan.

2. Jangan Putus Asa jika mengalami kesulitan dalam menguasai Bahasa yang masuk kategori HARD ini, jika waktu belajarmu saja belum sampe 2200 class hours. Boleh lah anda mengatakan Bahasa Arab itu susah kalo memang benar durasi belajarmu seluruhnya sudah beyond the limit, tetapi kalo baru belajar Bahasa arab dengan durasi 1 jam perminggu, 2 bulan, 3 bulan, 1 semester maka sadarlah itu baru seper-berapanya dari standard data statistik ini.

3. Jika sudah melewati 2200 Class Hours tapi masih belum lancar juga, Maka ingatlah 2200 hours adalah asumsi ideal dengan mengesampingkan faktor lain. Bisa jadi anda harus melihat kembali niat anda, Ikhlas atau tidak, untuk apa mempelajari Bahasa ini. Cek lagi kualitas belajarnya apakah sudah bisa dikatakan anda telah serius dan sungguh-sungguh dalam belajar Bahasa arab. Jika belum maka kembali pada standard diatas.

4. Jangan lupa bahwa Infografis diatas For English Speakers, tidak serta merta bisa disamakan untuk orang-orang Indonesia. Seharusnya kita bersyukur dengan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ibu kita , mengapa? Karena banyak kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Arab, seperti Musyawarah, Ijazah, Iklan, Nikah, Syukur, Sabar, dan masih banyak lagi. Setidaknya ini sudah memudahkan orang Indonesia untuk menyicil “mufradat” dalam Bahasa Arab.

5. Dan ingatlah selalu bahwa Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya, sungguh telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”(Al-Qamar: 17)

Semoga bermanfaat dan Kebenaran selalu datang dari Allah azza wa jalla.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Deni Setiawan
-saudaramu yang sama-sama sedang belajar
Rabu, 9 Rabbi’1 1436 H

(Bersambung……)