sadBismillah,

Ibnul Qayim berkata :
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh mana kesabaran dan penghambaannya”

Perkataan emas yang senantiasa menghibur diri kita tatkala dilanda musibah dan kesedihan yang mendalam. Hidup di dunia ini memang tidak mudah. Tugas besar yang harus diemban oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi; menjaganya, memakmurkannya dan melindunginya. Manusia juga harus menerima ujian dan cobaan yang silih berganti sebagai rintangan hidup. Selain itu, dia juga harus berani bersaing dengan yang lainnya agar bisa mempertahankan hidup dan harga diri. Pada sisi lain dia juga akan dimintai pertanggung jawaban oleh Sang Khaliq di hari kelak. Dunia yang fana membuat dirinya harus memutar otak dan peras keringat untuk menggapai kebahagiaan keduanya.

Allah adalah pencipta manusia dan alam semesta. Dialah yang memberikan karunia para hamba-Nya di dunia dan akhirat. Dia jualah yang menjamin kehidupan yang mapan bagi siap yang tas kepada-Nya. Allah Azza wa jalla berfirman

 عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: ” Ini adalah berita dari yang Maha benar, Dia memberi tahu hamba-hamba-Nya yang memiliki ‘ainul yaqin, bahkan haqqul yakin, bahwa sesungguhnya Orang yang beramal shalih akan diberi kehidupan yang baik menurut kadar keimanannya. Akan tetapi Orang bodoh salah mengartikannya. Mereka mengira bahwa orang yang mendapatkan kenikmatan adalah yang memperoleh berbagai macam makanan, minuman, pakaian, punya istri, atau memiliki kekuasaan dan harta. Tidaklah diragukan lagi bahwa kenikmatan ini juga dimiliki oleh binatang. Maka orang yang hanya mengandalkan kenikmatan dunia, itu seperti binatang. Besok pada hari kiamat tergolong orang yang akan dipanggil dari jauh.

Di antara sarana yang paling besar untuk kelapangan hati ialah memperbanyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Berdzikir ini memiliki pengaruh yang mengagumkan bagi kelapangan dada, ketentraman hati dan hilangnya kegelisahan di dalam dada. Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Rad: 28)

Dzikrullah adalah suatu amalan yang sangat mudah sekali untuk dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Allah menjanjikan kepagian, ketenangan hidup dan perlindungan dari-Nya bagi siapa saja yang mengingat-Nya. Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan fadhilah dzikrullah. Akan tetapi banyak pula yang melupakannya.?!
Allah Azza wa Jalla berfirman :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)
Orang beriman sangat mengetahui dengan sebenarnya bahwa sumber kebahagiaan dan kedamaian adalah hati yang bersih. Bila hati bersih dan suci, maka kebahagiaan menanti. Namun jika hati kotor, maka kesengsaraan yang harus dihadapi. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an:
َدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا , وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)

Sungguh orang yang bahagia adalah yang dapat menggapai Surga Allah dan orang yang rugi adalah yang tempat kembalinya Neraka yang penuh dengan siksa.
Periksa kembali hati kita apakah ada sesuatu yang salah yang membuat hidup ini menjadi terasa berat untuk dilalui?

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Merupakan sunnatullah bahwasanya Allah Ta’ala telah menentukan ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Mereka akan diuji dengan berbagai macam ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. (Tafsiir ath-Thabari, IX/26, no. 24588).
Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakan
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ
“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”(QS. An-Naml: 40).

Mudah-mudahan tulisan yang penulis sajikan ini dapat bermanfaat terutama sekali bagi penulis sendiri dan semoga Allah senantiasa memberikan taufiq kepada orang tua penulis. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita temasuk golongan hamba-hamba yang bersyukur atas karunia yang ada, dan bersabar atas ujian dan cobaan hidup yang menimpa. Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa kita dan kamu muslimin seluruhnya. Amiin!
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

1. Al Wabil Ash-Shayyib hal. 5

2. Majalah Al-Furqan, Edisi 8 tahun 1428, dinukil dari Badai’ut Tafsir, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 3/51

[disadur dari buku Manisnya Dunia, Pahitnya Neraka]

Written by : Deni Setiawan Abu Muhammad [ST 10031274]

email : deni.setiawan@iou-students.com