faidah

kita tahu bersama di bab الفعل الثلاثيّ المجرّد ( fiil tsulasti mujarad )
ada 6 bab yaitu dengan wazan

bab 1 = فعل-يفعل [ fa’ala – yaf’ulu ] dengan contoh نصر-ينصر [nashoro-yanshuru] = telah menolong
bab 2 = فعل-يفعل [ fa’ala – yaf’ilu ] dengan contoh ضرب-يضرب [dhoroba-yadhribu] = telah memukul
bab 3 = فعل-يفعل [ fa’ala – yaf’alu ] dengan contoh فتح-يفتح [fataha-yaftahu] = telah membuka
bab 4 = فعل-يفعل [ fa’ila – yaf’alu ] dengan contoh علم-يعلم [‘alima-ya’lamu] = telah berilmu
bab 5 = فعل-يفعل [ fa’ula – yaf’ulu ] dengan contoh حسن-يحسن [hasuna-yahsunu] = telah baik
bab 6 = فعل-يفعل [ fa’ila – yaf’ilu ] dengan contoh حسب-يحسب [hasiba-yahsibu] = telah menilai/menghitung

itu merupakan bab dari fiil tsulasti mujarad beserta contohnya yang katanya (contoh tersebut) sudah terstandardisasi oleh ulama bahasa
jadi saat menjelaskan bab 1 fiil tsulasti mujarad maka diberi contoh نصر saat menjelaskan bab 2 maka diberi contoh ضرب dan begitu seterusnya…

nah yang ingin ana share disini adalah ulama bahasa tidak asal dalam memberi contoh dalam masing2 bab tersebut,
para ulama telah menjadikan -dalam contoh tersebut- standar bagaimana perjalanan seorang PENUNTUT ILMU
digambarkan dalam fiil tsulasti mujarad ini perjalanan seorang penuntut ilmu yaitu :

kita semua penuntut ilmu dimulai dari نصر (kita ditolong oleh Allah untuk memahami ilmu ini) lalu kita harus mengalami ضرب (jatuh bangun dalam menuntut ilmu pasti kita rasakan ) setelah itu kalo kita sabar dalam menuntu ilmu kita akan mengalami فتح (akhirnya kita dimudahkan oleh Allah dalam memahami ilmu)
kalo kita sudah melewati tahap tersebut dan senantiasa istiqomah maka kita masuk ke fase علم . namun menjadi berilmu saja belum cukup.

setelah kita berilmu maka kita seharusnya menjadi حسن dalam akhlaq kita,
dan jika kita sudah baik maka kita akan حسب (yang selalu diperhitungkan oleh manusia akan ilmu yg kita miliki, bermanfaat bagi orang lain)

masyaAllah yaa nasihat mereka para ulama,
namun para ulama bahasa tidak berhenti sampai disitu menasihati kita,
coba kita lihat di bab selanjutnya الفعل الرّباعي المجرّد (fiil rubai mujarad)
mengapa para ulama sharaf membuat standar contohnya دخرج [dakhroja=telah jatuh/tergelincir] ? mengapa tidak زلزل [zalzala=telah goncang]?

ternyata ada maksud tertentu dibalik standardisasi tersebut, yaitu
“saat kita sudah merasa berilmu dan dinilai/diperhitungkan oleh manusia علم maka kita harus senantiasa hati hati !!
nanti kita bisa دخرج😀😀
karena kalo orang ‘alim sudah jatuh tergelincir sangat BAHAYA, dia bisa SESAT lagi MENYESATKAN orang lain

masyaAllah nasihat yang agung dari para ulama bahasa,

kesimpulannya :
penuntut ilmu awalnya minta tolong kepada orang yang berilmu untuk diajari ilmu
then, dia pasti mendapatkan ضرب dari Allah azza wa jalla melalui gurunya, kehidupannya, belajarnya, dll
maka yang akan sukses dari fase tersebut adalah orang yang sabar!, sebab orang yang dalam menuntut ilmu tidak sabar
satu waktu saja maka dia akan menelan racun kehidupan sepanjang masa.
then, ketika dia sabar maka ilmu itu akan terbuka, karena kita tidak tahu kapan kita dibukakan pintu ilmu oleh Allah,
karena ilmu itu milik Allah.
maka kalo kita punya adab yang baik, kita serahkan pada Allah, Allah yang maha tau kebaikan kita kapan diberi ilmu oleh Allah entah besok , lusa, atau entah sampai kapan tapi yang penting kita terus MENUNTUT ILMU

karena ada banyak orang yang menuntut ilmu tetapi dia tidak mau bermujahadah dan ingin langsung jadi pintar, itu mustahil !!

then, setelah kita berilmu maka kita seharusnya memiliki adab yang baik حسن , karena betapa banyak orang yg sudah berilmu tapi tidak baik akhlaqnya

diselesaikan di Bandung, 4 Februari 2013

_Saudara Seimanmu_