Sudah Taubat, Tapi Masih Ingin Maksiat (?)

Originally posted on سبيل العلم:

25112013-5f194Taubat dari maksiat setelah sekian lama perbuatan dosa itu dilakukan bukan perkara mudah. Pasalnya, hati sudah kadung suka dengannya. Kecenderungan hati manusia sangat ditentukan oleh kebiasaannya. Sesering apa ia berbuat maksiat, sebesar itulah kecenderungan hatinya pada perbuatan itu. Jangankan yang sudah lama tenggelam dalam suatu perbuatan maksiat, satu kali saja memperbuatnya, hati akan cenderung suka kepadanya. Butuh perjuangan yang tidak ringan untuk dapat melepaskan diri darinya secara total. Butuh usaha yang tidak sebentar untuk dapat memupus kecenderungan hati kepadanya secara tuntas.

View original 334 more words

An Introduction to Tajwid

Ilmu Tajwid <3 <3

ROMANTIKA SEORANG AHLI TAJWID
KEPADA ISTRINYA SETELAH AKAD
NIKAH…

>> Dik, saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

>> Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati diantara idghamBillaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada.

>> Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar,jelas dan terang.

>> Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

>> Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain melebur jadi satu.

>> Cintaku padamu seperti Mad Lazim. Paling panjang di antara yang lainnya.

>> Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro. Terpantul-pantul dengan keras.

>> Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

>> Sayangku padamu seperti Mad Thobi’I dalam quran. Buanyaaakkk beneerrrrr.

>> Semoga dalam hubungan, kita ini kayak idgham Bilaghunnah ya, cuma berdua, Lam dan Ro’.

>> Layaknya Waqaf Mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku ?

>> Meski perhatianku ga terlihat kaya Alif Lam Syamsiah, cintaku padamu seperti Alif Lam Qomariah, terbaca jelas.

>> Dik, kau dan aku seperti Idghom Mutajanisain. perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

>> Aku harap cinta kita seperti Waqaf Lazim, terhenti sempurna di akhir hayat.

>> Sama halnya dengan Mad ‘Aridh dimana tiap mad bertemu Lin Sukun Aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

>> Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di fikiranku.

>> Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

>> Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti Mad Aridlisukun.

Semoga bermanfaat untuk memahami ilmu Tajwid… ^__^

Di pagi hari tiba-tiba dapet WA dari Ponpes Madinatulquran kaya gini……
Hiburan pagi
7.17 AM
Bandung

Rahasiakan Amal Shalehmu

Sekaleng Ilmu:

Sufyan bin Uyainah berkata, Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikan kalian, lebih dari ketika kalian menyembunyikan keburukan-keburukan kalian.”

Originally posted on سبيل العلم:

rahasiakan amal shalehmuIkhlas dalam beribadah adalah kewajiban setiap muslim. Tanpanya ibadah atau amal shaleh akan sia-sia, bahkan berakibat siksa. Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi [18]: 110)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah [98]: 5)

View original 1,540 more words

Menimbang kembali pemberian beasiswa ke luar negeri

Sekaleng Ilmu:

Perlu dipertimbangkan pemerintah juga yaa …..

Originally posted on ..:: Jurnalistik Sains ::..:

Riuh rendah beasiswa saat ini agaknya semakin menjadi-jadi. Seakan ingin mewakili hasrat generasi muda kita untuk menglangkah berburu ilmu pengetahuan, digelontorkanlah beasiswa melalui pelbagai format; debt-swap yang intinya membayar hutang dengan pola beasiswa, kemudian ada beasiswa reguler Dikti via Kemendikbud, belum lagi dengan gelontoran beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dikelola oleh Kemenkeu dan yang paling mutakhir ialah beasiswa Presiden RI untuk mahasiswa Indonesia yang berotak paling encer untuk menimba kedigjayaan di kampus-kampus kelas wahid dunia, seperti yang baru-baru ini diberitakan (baca: .SBY Lepas 109 Penerima Beasiswa Presiden).

View original 1,793 more words

122279910_integrity1

Integrity, is it so important ? : Mahasiswa

Integrity, is it so important ? : Mahasiswa

Banyak orang yang menyangka bahwa sukses itu semata-semata karena seseorang memiliki kemampuan intelektual dan kecerdasan yang super. Banyak orang yang tertipu, saat nilai akademik yang direpresentasikan oleh IPK yang tinggi, maka kita akan sukses dan bisa survive di tengah-tengah masayarakat dan komunitas internasional kelak? Itu hanya sebuah mimpi disiang hari teman…..

Ada yang terlupakan dalam diri kita, sebuah konsep fundamental yang super canggih. Sebuah konsep yang menunjukan konsistensi antara tindakan dengan nilai serta prinsip yang diyakini. Sebuah keteguhan yang tak tergoyahkan dalam mempertahankan nilai – nilai luhur dan keyakinan yang kita miliki. Pantang menelan ludah yang telah dikeluarkan dari mulutnya sendiri. Sebuah anak panah menakutkan bagi sebuah kata yang -sepakat- kita benci bersama (re:kemunafikan/hypocrisy). Ya, That’s integrity!

Pembahasan tentang integritas sangatlah luas. Begitu banyak aspek yang dapat tersentuh oleh konsep yang canggih ini. Integritas bukan -melulu- hanya ditafsirkan sebagai perilaku seorang mahasiswa yang tidak menyontek tatkala ujian atau quiz, bukan juga ditafsirkan sebagai sikap mahasiwa yang tidak pernah titip absen sama sekali, atau seorang mahasiswa yang sangat-sangat jujur 100% dalam perilaku kehidupan sehari-harinya. Namun integritas lebih dari itu semua dan begitu komprehensif dalam aplikasinya.

Pentingnya sebuah integritas yang harus ada di dalam karakter mahasiswa ideal memang sangat penting untuk dibahas. Mengapa tidak? Sebab dengan integritas yang baik lah semua titik perubahan itu akan berhulu. Sebab dengan integritas yang mendarah daging dalam sanubari mahasiswa lah awal dari solusi sebuah masalah dapat kita temukan. Sebab dengan integritas yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin dan jajaran pemerintahan negara ini lah, Indonesia yang madani akan bangkit.

Berbicara integritas pun secara tidak langsung kita telah bermain dengan sebuah kata, yaitu “kepercayaan”. Sesuatu yang sulit untuk dibangun, sangat berat untuk dijaga, namun sangat mudah untuk dihancurkan berkeping-keping. Sekali hancur, layaknya sebuah pecahan kaca, maka bekasnya pun tak kunjung sembuh dan hilang bagaimana pun caranya kita memperbaikinya.

Integritas menjadi karakter wajib bagi seorang pemimpin. Bukankah setiap dari kita adalah pemimpin? Setiap dari kita memang sudah ditakdirkan menjadi pemimpin oleh Tuhan, ya minimal untuk memimpin diri sendiri. Seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan dari setiap orang yang pernah mengenal dirinya. Baik itu bawahannya, koleganya, saudaranya, atau bahkan dari keluarganya sendiri.
Sebegitu pentingnya integritas dalam setiap individu dan berbagai kalangan, baik itu mahasiswa, dosen, praktisi, pekerja, atau bahkan rakyat kecil biasa. Semua membutuhkan integritas dalam proses berkehidupan. Masalahnya adalah mungkin kita masih bingung dan rancu tentang integritas ini, bagaimanakah sikap yang sehingga kita dapat dikatakan telah berintegritas atau belum berintegritas?

Untuk menjawab pertanyaan diatas maka penulis akan membagi point-point yang menurut penulis merupakan batasan-batasan minimal agar kita dapat dikatakan telah berintegritas. Kita dapat memulainya dari musuh terbesar dari integritas itu sendiri, yaitu kemunafikan atau hypocrisy. Hypocrisy sendiri memiliki ciri-ciri tetap yang dapat kita karakterisasi satu dengan yang lain, selanjutnya dengan sikap tidak melakukan atau membuang ciri-ciri tersebut jauh-jauh dari diri kita, maka secara minimal kita dapat dikatakan sebagai orang yang telah berintegritas. Ciri-ciri dari hypocrisy adalah sebagai berikut :

1. Jika berjanji dia mengingkari
Contoh: Saat kita disahkan menjadi mahasiswa ITB, maka secara tidak langsung kita telah tunduk dan patuh pada setiap perjanjian/peraturan apapun yang telah dibuat pihak ITB untuk mahasiswanya, baik dari sisi perjanjian akademik, keuangan, atau administrasi. Oleh karena itu melanggar salah satu dari perjanjian/peraturan tersebut, maka orang tersebut dapat dikatakan telah -ingkar- dan secara langsung pula telah hilang kadar integritas yang dia miliki saat itu.

2. Jika berbicara dia berbohong
Contoh: Pengakuan palsu atau pembelaan palsu yang tidak berdasar demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu baik untuk mencari keuntungan semata atau tidak. Oleh karena itu ketika seseorang itu berbohong dalam menyampaikan sesuatu, maka orang tersebut secara langsung dapat dikatakan telah hilang kadar integritas dari dalam dirinya.

3. Jika diberi amanah dia khianat
Contoh: Para pemegang lini teratas dari setiap organiasi di kampus (Kahim, Ketua acara, Ketua Unit, dan lain-lain) yang berkhianat, menyelewengkan jabatan, menggunakan posisi kekuasaan untuk kepenting tertentu yang tidak sejalan dengan garis besar haluan di suatu organisasi tersebut, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Maka ketika dalam diri seseorang terdapat sikap tersebut, maka dia dapat dikatakan sebagai orang yang telah hilang integritasnya.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca dan semoga kita dapat menjaga integritas dalam diri kita masing-masing. 122 PATRA!!!

Deni Setiawan -12212004- Mahasiswa S1 Teknik Perminyakan ITB

-Tulisan untuk Divisi Buletin dan Majalah Himpunan Teknik Perminyakan PATRA ITB

26/9/2014 Jam 23.05 WIB

Buletin dapat dilihat secara online pada link berikut : http://issuu.com/aforalps/docs/petromagz_sept2014/1

time for change

Sunnah yang tertukar ?! (Bag 1)  

time for change

Rasa sungkan dan malu terkadang meliputi diri kita ketika melaksanakan sesuatu yang bernilai ibadah namun banyak orang yang tidak terbiasa dengan hal tersebut. Betapa banyak orang yang malu-malu tatkala mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya sesama Muslim yang sudah dikenal, apalagi yang belum kenal sama sekali -Pastilah rasa sungkan itu lebih besar lagi-.

Tidak diragukan lagi bahwa salam yang dimaksud adalah ucapan ‘Assalamu’alaikum‘ atau lebih baik lagi ‘Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh‘. Bukan ucapan gaya barat atau sapaan gaul lainnya. Adakah yang lebih baik ucapan selain ucapan diatas? Bukankah ucapan salam tersebut mengandung secarik do’a yang luar biasa? Namun sangat disayangkan sebagian saudara-saudara kita masih lelap tertidur dari kandungan isinya, sebagian umat Islam masih berbalut malu kelembutan tatkala mengucapkannya, sebagian dari kita masih menyukai sapaan gaul zaman ini ketimbang sebuah bait do’a yang sangat agung tersebut.

Saat kita terpaksa melihat realita yang ada. Ucapan salam yang diucapkan selain ucapan ‘Assalamu’alaikum‘, terkadang tidak lebih dari sebuah basa-basi belaka. “Hey broo, what’s up broo, good morning brother dst” sering kali diucapkan hanya untuk memecah kesunyian suasana. Tak jarang hati-hati diantara mereka tidak menunjukkan rasa saling mengasihi satu sama lain. Akhir zaman seperti ini sudah terlalu mahal arti sebuah ketulusan hakiki, dan sudah terlalu banyak obral basa-basi ditabur disegala penjuru. Betapa banyak manusia yang telah hilang dari hatinya rasa saling mengasihi satu sama lain. Jasad mereka tampak bersatu dengan balutan senyum dan iringan sapaan-sapaan kosong makna, namun hati mereka tetaplah berpecah satu sama lain.

Kita tidak sedang membicarakan siapa-siapa karena sangat disayangkan sekali hal ini terjadi ditubuh-tubuh persatuan dan persaudaraan umat Islam. Kata “Persatuan” dan “Saling mengasihi” begitu dimimpi – mimpikan oleh Umat Islam di akhir zaman seperti ini. Ibarat barang langka yang hilang entah kemana, laksana sebuah harta yang terkubur di sebuah peti. Kesana kemari mencari cara untuk membuka peti tersebut, namun mereka telah dilupakan bahwa kunci peti tersebut berada didalam saku baju nya sendiri. Sungguh miris bukan?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Pernyataan Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam begitu sistematis. Pertama, beliau bersabda لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُواKalian tidak akan masuk syurga sampai kalian beriman” kemudian beliau mengkaitkan kesempurnaan Iman seseorang dengan urgensi saling mencintai (re: saling mencintai kerena Allah azza wa jalla). Setelah itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan cara terbaik sehingga diantara kita bisa saling mencintai satu sama lain. Beliau bersabda أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْSebarkanlah salam diantara kalian”.

Metode terbaik untuk menjalankan hidup yang madani tidaklah dapat tercapai kecuali jika kita mengikuti metode terbaik pula. Tak usah kita berfikir terlalu jauh, biarlah realita yang membungkam semuanya. Bagaimana mungkin hanya dengan mengucapkan salam, kita bisa saling mencintai? Bagaimana mungkin rasa saling mencintai diantara sesama umat Islam akan tumbuh bersemi dengan washilah menebar sebuah kalimat yang tidak memakan waktu lebih dari 3 detik tersebut? Biarlah hati-hati yang hanif yang akan merasakan sensasi rasa persaudaraan itu tumbuh bersemi. Biarlah pengalaman para penebar salam yang menceritakan “rasa” saling mencintai itu benar-benar hadir. Benarlah ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam” bahwa kalimat ‎ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ bukanlah kalimat basa basi belaka jika diucapkan dengan penuh keyakinan dan ketulusan terlebih lagi jika dibalut dengan niat mengikuti tuntunan yang diajarkan oleh Manusia terbaik di alam ini shalallahu ‘alaihi wassalam.

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim (2/35) dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.

Oleh karena itulah, sudah selayaknya kita bersama-sama mengembalikan sunnah yang saat ini telah tertukar dengan tandingan-tandingan ucapan penuh basa basi. Dengan menghidupkan salam kepada orang lain baik yang kita kenal maupun tidak, insyaaAllah rasa saling mencintai akan kembali menyatukan hati-hati kaum muslimin. Mimpi yang terkubur kembali terkuak. Indahnya persatuan akan kembali kepangkuan Umat Islam diseluruh dunia, disaat musuh-musuh Islam kini tertawa melihat kaum Muslimin berpecah belah.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Deni Setiawan

-saudaramu yang sangat mengharapkan ampunan-Nya-

Sabtu, 27 Syawwal 1435 H/ 23-08-2014 8.08 WIB

dimuat pula di majalah Al-Hidayah edisi 1
http://issuu.com/udrussunnahbandung/docs/majalah_al-hidayah_edisi_1/0